Monday, August 22, 2016

1000 Startup Bukan Mimpi Tanpa Solusi


Hampir setengah jumlah pengguna internet dunia, ada di benua Asia. Begitulah wasiat kolumnis Republika, Setyanavidita Livikacansera, yang memotivasi para inovator muda untuk beramai-ramai mencoba peruntungan di dunia startup digital. Tak terkecuali pemuda kreatif Indonesia, yang diamini pula oleh pemerintah melalui Kemenkominfo dalam Gerakan Nasional 1000 Startup Digital. Bukan sekadar gagasan dan angin lalu, gerakan ini sudah mengawali langkah-langkah nyata dalam mewujudkan misi besarnya. Tengok saja di beberapa kota besar di Indonesia, sudah dimulai tahapan-tahapan dasar seperti Ignition dan Workshop yang melibatkan ratusan pemuda.

Tahap Ignition pertama kota Yogyakarta dihelat di gedung kebesaran almamater saya, Grha Sabha Pramana, pada Sabtu, 13 Agustus 2016 lalu. Dihadiri ratusan muda-mudi masa kini yang punya banyak mimpi, ajang tersebut mempertemukan para newbie & startup-founder-wannabe dengan praktisi dan kalangan ahli. Tentunya melalui pertemuan ini, diharapkan para peserta memiliki paradigma yang benar tentang dunia entrepreneurship, khususnya bisnis startup digital. Tak sekadar bisnis menambah pundi-pundi rezeki, namun bisnis yang berorientasi pada solusi-solusi akan permasalahan di sekeliling kita.

Banyak hal menarik yang saya dapatkan dalam Ignition kota Gudeg kali ini. Tapi di blog ini saya hanya akan bagikan 2 poin saja. Gratis untuk Anda. Pertama, hadirnya sosok nomor wahid di bidang IT dalam negeri, Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara. Beliau turut serta berbagi wejangan untuk membangkitkan motivasi kawula muda Jogja bergelut di dunia startup digital. Yang menarik adalah ide dan mimpi 'gila' beliau yang ingin membentuk homeschooling khusus untuk belajar coding. Jadi, lulusan SMP yang ingin ahli di bidang IT, tak perlu lanjut SMA/SMK. Cukup belajar coding saja di rumah! Wow, ini dia ide kreatif! Dibanding wacana full-day school-nya Menteri Pendidikan yang baru, ide Pak Rudiantara ini lebih kekinian. #NoOffense

Kedua, panel diskusi dan talkshow yang disajikan sangat padat dan rapat. Awalnya saya kira hanya akan ada maksimal 3 sesi dengan total 5 narasumber. Ternyata para peserta dihidangkan 6 sesi panel diskusi dengan total sekitar 16 narasumber termasuk moderator. Mbak MC tidak dihitung. Logikanya, dengan materi sepadat dan serapat itu tentu akan membuat peserta lelah, letih, lemas, lesu dan lunglai. Kuliah kalkulus satu jam dengan seorang dosen saja terkadang sudah cukup membuat saya pening. Namun anehnya dalam Ignition kali ini, walau saya disuapi dengan materi berporsi ekstra besar, saya belum merasa kenyang. Justru merasa kian lapar & tertantang untuk terus belajar dan belajar.

Terima kasih atas inspirasi yang telah dibagikan dalam Ignition kali ini. Harapannya saya dan seluruh peserta mampu memahami sekaligus menyelami dunia startup digital dengan mulus. Meskipun kita tahu bahwa halangan pasti akan datang, di waktu yang tak disangka-sangka. Namun saya percaya, dengan ikhtiar dan doa, badai pasti berlalu. Seribu startup digital bukan hanya mimpi tanpa solusi.

#1000StartupDigital

Monday, June 27, 2016

13 Hewan dari 13 Lingkaran
















Source: Dori the Giant



Saturday, November 14, 2015

[IDVolunteering] Di Telabit, Cintaku Terbit


Pertengahan Agustus, tahun lalu.

Mentari pagi kian cerah, seakan turut memeriahkan hari perdana relawan VTIC Foundation mengajar di Malaysia. Didampingi cikgu Selfi, kami menyusuri jalan setapak menuju sekolah tempat mengabdi. Sepanjang perjalanan, saya, Jihan dan Rina mengamati beragam aktivitas TKI di sini. Mulai dari makcik yang tengah berkebun, sampai pakcik yang sibuk memikul tandan kelapa sawit.

Tiba di sekolah, kami disambut Sang Kepala Sekolah yang juga merangkap sebagai juru
kuncinya. Mas Udin Madong, begitulah nama yang tertera di akun facebook beliau. Selain mengajar, cikgu Udin juga bertugas sebagai pengusir nyamuk di Telabit. Dua kali sepekan ia keliling kompleks, membasmi nyamuk (fogging) di rumah-rumah warga. FYI, beliau sudah kepala empat, namun masih bahagia menyandang gelar bujangan. Wanna take him out? :P

Prestasi Evan Melejit

Sekolah non-formal CLC An-Nur Hijrah Telabit yang sederhana, namun penuh cerita. Di gubuk kayu inilah 32 pelajar menimba ilmu. Mulai tingkat tadika (TK), SD hingga SMP, berbaur satu atap tanpa sekat. Minimnya fasilitas ditambah kualitas pendidik yang seadanya membuatku prihatin, sekaligus ragu akan mutu pendidikan di sini. Namun selama dua pekan mengajar, keraguanku sedikit demi sedikit tumbuh menjadi keyakinan. Keyakinan bahwa mereka pun memiliki masa depan yang cerah. Salah satunya karena kehadiran Evan.

Evan adalah satu-satunya murid SMP di Telabit yang sangat bersemangat melanjutkan sekolah. Walau berstatus sebagai selundupan (baca: imigran gelap), namun niatnya menjadi seorang dokter tak dapat diragukan. Buktinya, dua tahun lalu ia menjadi lulusan Paket A terbaik se-Sarawak, Malaysia. Sungguh prestasi yang sangat membanggakan. Kecerdasan dan kedisiplinannya dalam belajar memang di atas rata-rata murid lainnya. Evan-lah yang menjadi contoh dan panutan siswa lain di sekolah. Evan pula yang kerap mendapat misi penting dari cikgu, entah memanggil murid-murid untuk berkumpul, atau sekadar mengantar pulang siswa tadika. Walau begitu, Evan juga tak jarang menjadi biang kerok kegaduhan kelas. Maklumlah, anak-anak.

Mail Dua Seringgit

Selain Evan, masih banyak murid Telabit yang tak kalah unik. Ada trio kelas 6 SD yang cerdas-cerdas: Suleha, Nana dan Uni. Johari kelas 5 SD yang slengekan tak karuan tapi dapat diandalkan, walau hanya kadang-kadang. Akmal (4 SD) si mungil genius yang hafal teks Pembukaan UUD 1945. Ada pula Milda (4 SD), gadis comel nan penuh canda. Dan masih banyak yang lainnya. Salah satu murid yang membuatku sesekali cekikikan adalah Mail Ismail (4 SD), kami memanggilnya Mail Dua Seringgit. Lantaran perawakannya kembar identik dengan tokoh Mail dalam Upin Ipin, yang tersohor akan tagline-nya, "Dua seringgit, dua seringgit."

Satu hal tak terlupakan dari Mail adalah ekspresinya yang tiba-tiba berubah drastis saat terkejut atau tertawa. Mail-lah yang pertama kali berinisiatif menulis surat perpisahan di hari-hari terakhir kami mengajar. Dengan tulisan cakar ayamnya, Mail berpesan: “CEgU LiNtANg jAgAN pULANg yA. Nati KitA mAiL Adi AjAK pEgi KA BiNtULU. mAiL.” (“Cikgu Lintang jangan pulang, ya. Nanti kita, Mail dan Adi ajak pergi ke Bintulu. Mail.”)

Terima kasih banyak, Mail. Kapan-kapan kita ke Bintulu, OK? :’)

Reyhan Nakal Bingit?

Suatu siang selepas mengajar, kunikmati angin sepoi-sepoi di beranda rumah cikgu Selfi. Tak lama berselang, Jihan menyusul sembari membawa satu paket cerita bergambar bantuan dari KPK, seraya duduk di depan pintu dan membacanya dengan lantang. Entah Jihan membacakan cerita untuk siapa. Untukkukah? Do you think I can’t read it by myself, Jihan?

Beberapa menit kemudian, sayup-sayup terdengar suara anak kecil berseliweran di sekitar rumah. Kupanggil ia naik ke rumah panggung. “Sini, nak,” ujarku. Beberapa kali kupanggil, ia hanya menyahut dengan bahasa batin. Jihan pun merayunya dengan menyodorkan buku cerita bergambar. Walhasil, alon-alon waton kelakon, ia pun naik selangkah demi selangkah ke atas rumah panggung.

Sosoknya tak kami jumpai di sekolah, karena memang ia putus sekolah. Kondisi ekonomi memaksa bocah 7 tahun itu membantu orang tua bekerja di ladang. Kata cikgu Selfi, anak ini tergolong very naughty. Dan memang, ia sedikit liar, nakal, brutal, membuat semua orang menjadi gempar. Emangnya kera sakti? Mungkin bukan nakal, lebih tepatnya cari perhatian. Namanya Reyhan. Saat kuajak ke surau, Reyhan menurut. Padahal selama ini ia jarang sembahyang di surau, bahkan tak pernah. Kala kuajak mengaji ba’da maghrib, Reyhan pun ikut, walaupun sejauh ini ia baru Iqro' jilid 1. Itupun hanya huruf alif sampai jim yang ia pahami. 


***

Evan, Mail, dan Reyhan menjadi cermin bagaimana kondisi pendidikan anak-anak TKI di Negeri Jiran. Mereka terhimpit hiruk-pikuk lingkungan industri, tercekik dengan doktrin: sekolah tak penting, kerja yang paling penting. Mereka hanyalah tiga dari ribuan putra-putri pahlawan devisa yang butuh cinta, perhatian, dan kesadaran akan pentingnya bersekolah. Kalau bukan dari kita, siapa lagi? Kalau bukan dari sekarang, kapan lagi? Mari satukan hati dan aksi, demi generasi emas Ibu Pertiwi.


Dan atas nama Yang Maha Kuasa, kusedekahkan sebagianku.
Tangan kiri pun tak tahu, biarlah Tuhan yang tahu.
Walau hanya setetes cinta, kucoba peduli dan berbagi.
Hidupku ingin berarti, satu cinta berbagi bahagia.



= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

"Stand by Me, Telabit"
(subtitle: enabled)


"Di Telabit, Cintaku Terbit"


Lentera Indonesia NET TV 21 September 2014
"Anak Indonesia di Negara Tetangga"






Sunday, October 26, 2014

NASA Orion's Flight Test


Alhamdulillaah. Yeah, my name will fly to Mars with @NASA Orion's Flight Test on Dec 4th, 2014. Although just my name which follow it, I'm happy. Have a nice flight. Where's your boarding pass, pal? #JourneyToMars




Wednesday, September 3, 2014

Di Telabit, Cintaku Terbit (Episode 1)

click here to read Di Telabit, Cintaku Terbit (Episode 3)

: : : : : : : :


Sebiru hari ini, birunya bagai langit terang benderang
Sebiru hari kita bersama di sini
Seindah hari ini, indahnya bak permadani taman surga
Seindah hati kita, walau kita kan terpisah
(Sebiru Hari Ini – EdCoustic)

Mungkin syair nasyid inilah yang melukiskan keceriaan berbalut kesederhanaan kami bersama siswa-siswi dan warga Telabit, Sarawak, Malaysia. Masih terngiang jelas memori perjalanan kami di sana. Mengajar bersama cikgu Selfie dan cikgu Udin, bermain dengan santri CLC An-Nur Hijrah Telabit, menerima ajakan Ustadz Faisal jalan-jalan dan shopping ke Batu Niah plus Bintulu, makan besar sop tulang ala chef Risal, dan tentu saja yang paling seru ialah membuat Zainal menangis seraya berseru, “Bombek ko!” (Bahasa Bugis yang artinya “Kita tak lagi berkawan!”). Ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Tak ada yang abadi.

Kisah kami berawal dari program besutan Kak Ineu Rahmawati bertajuk Volunteerism Teaching Indonesian Children 3 (VTIC 3), yang merupakan program relawan mahasiswa mengajar anak-anak TKI di industri minyak kelapa sawit Sarawak, Malaysia. Singkat cerita, tiga dari 25 mahasiswa terpilih diterjunkan mengajar di CLC Telabit milik perusahaan SOPB (Sarawak Oil Palm Bhd). Aku, Jihan (Matematika UNJ) dan Rina (Sejarah UIN). And here is our love story in Telabit.

Mabit di Telabit

Setibanya di Miri Airport, kami menanti datangnya jemputan cikgu Salim untuk melanjutkan perjalanan panjang menuju Saremas, lokasi pembukaan VTIC 3. Inilah momen pertamaku bersua tokoh inspiratif yang namanya selalu didengungkan panitia VTIC: Muhammad Salim, S.E., S.Pd. Cikgu Salim sosok pekerja keras, sederhana, humoris, tegas dan pantang menyerah, pun terkadang sedikit melankolis. Kisah nyata perjalanan hidup beliau yang dramatis semakin membuka mata kami untuk terus berbagi. Bahwa hidup ini penuh perjuangan, hidup ini penuh pengorbanan, dan hidup ini hanya sementara. Layaknya petuah Jawa, “Urip iku mung mampir ngombe” (“Hidup itu hanya singgah sebentar untuk minum”).

Menjelang maghrib, upacara pembukaan pun usai. Cikgu Selfie dan cikgu Udin datang menyambut dan siap memboyongku, Jihan serta Rina menuju Telabit. Beliau berdualah guru tetap di CLC An-Nur Hijrah Telabit, yang rela mengorbankan waktu dan tenaga demi mencerdaskan anak-anak TKI di sana. Satu jam perjalanan menyusuri jalanan berbatu nan berliku dengan menumpang helas (mobil off road Hilux single cabin), sangat romantis bagi para traveller yang gemar senam jantung. Akhirnya, kami pun tiba di kediaman cikgu Selfie. Senyum manis sang rembulan diiringi sambutan hangat tetangga sekitar menyapa kehadiran kami.

Perumahan pekerja SOPB Telabit memang tak mewah layaknya perumahan real estate di Indonesia. Jajaran rumah panggung dari kayu berderet rapi dari ujung ke ujung. Lebih dari 70 kepala keluarga tinggal di sini, mayoritas berasal dari beberapa provinsi di Sulawesi. Warga Telabit hidup dalam kesederhanaan, penggunaan listrik pun dibatasi. Listrik hanya dialirkan selama 6 jam per hari, mulai pukul 4-5 pagi dan 5-10 malam. Ya, inilah Telabit. Tempat di mana kami akan mabit (bermalam) selama dua pekan mendatang. Tempat di mana kami, bi idznillaah, akan mencoba mengabdi dan mencerdaskan generasi penerus negeri. Welcome to Telabit.

Maaf, Zainal Sedang Sakit

Kediaman cikgu Selfie menjadi home sweet home yang mengakrabkan kami. Cikgu Selfie sebenarnya lulusan diploma jurusan Pendidikan Akhlaq di salah satu perguruan tinggi di Sulawesi, namun qadar Allah menentukan beliau untuk hijrah ke Malaysia sebagai buruh tani kelapa sawit, sejak delapan tahun lampau. Amanah sebagai cikgu (guru), baru diembannya empat bulan ini. Cikgu Selfie tinggal di istana sederhananya bersama sang suami, kami memanggilnya Pakcik Suwardi. Pakcik yang asli Palu, Sulawesi Tengah itu tak terlalu banyak bicara dan cerita. Makan bersama kami pun tak pernah. Saat kami ajak, beliau pasti berujar, “Sudah, sudah, sudah.”. Padahal belum. Pernah satu kali beliau makan bersama, itupun tatkala makan besar sop tulang sebagai hadiah perpisahan Ustadz Faisal pada kami.

Malam pertama di Telabit, kami kedatangan tamu kecil. Dengan tampang polosnya yang tanpa dosa, perlahan-lahan ia mendekat dan mengucap salam dengan agak terputus-putus. Sekilas, tak ada yang janggal dengan bocah enam tahun itu. Namun, semua menjadi jelas saat cikgu Selfie memeluknya dan memberi tahu kami, “Maaf, bocah ini sedang sakit.” Sakit? What’s wrong? Usut punya usut, ternyata memang ada “kelebihan” pada bocah luar biasa ini. Belum sempat kami berkenalan jauh dengannya, sang ibu memanggil, “Zainal, matindro nak!” (Bugis: “Zainal, tidur nak!”). Oh, namanya Zainal. Ok Zainal, sleep well and have a nice dream, boy. See you tomorrow.

Adzan shubuh pun berkumandang, kulangkahkan kaki seorang diri menuju surau. Di sanalah pertama kali aku berkenalan dengan Ustadz Faizal dan Bang Risal. Ustadz Faizal termasuk tokoh sentral di perumahan pekerja SOPB Telabit. Beliaulah yang mengurus segala sesuatunya, termasuk pasokan air dan listrik di seantero Telabit. Beliau sosok yang ringan tangan, supel dan penuh perhatian pada kami. Sementara itu Bang Risal, adalah salah satu mandor muda di sini. Ia tinggal di Telabit bersama ibu dan putri semata wayangnya, Aisyah. Isterinya meninggal setahun yang lalu di Miri. Bang Risal-lah yang biasanya menjadi teman curhatku selepas ‘Isya di surau.

Lepas shubuh rutinitas kami dimulai. Kami membantu cikgu Selfie meramu sarapan pagi dan antri mandi tentunya. Sarapan pun telah siap. Cikgu Selvie, Rina dan Jihan juga sudah comel. Tinggal aku yang belum mandi. Never mind, breakfast must go on. Saat kami tengah asyik sarapan, tiba-tiba muncul dari balik pintu bocah manis berseragam putih-biru dengan polesan bedak yang belepotan, mengucap salam. Zainal rupanya. “Zainal, pura mandrekah?” (Bugis: “Zainal sudah makankah?”), tanyaku. Zainal menjawab dengan bahasa batin, diam tanpa kata, diam seribu bahasa. Mungkin masih malu. Baiklah. Bombek Ko!


(to be continued, click here to continue)


= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

"Stand by Me, Telabit"
(subtitle: enabled)


"Di Telabit, Cintaku Terbit"


Lentera Indonesia NET TV 21 September 2014
"Anak Indonesia di Negara Tetangga"






Di Telabit, Cintaku Terbit (Episode 2)

click here to read Di Telabit, Cintaku Terbit (Episode 3)
click here to visit Indonesia Volunteering Hub

.: VTIC Foundation :.




Mentari pagi semakin tinggi seakan memberikan semangat di hari pertama relawan VTIC akan mengajar di sekolah, CLC An-Nur Hijrah Telabit. Didampingi cikgu Selfie dan Zainal, kami berjalan bersama menuju sekolah untuk pertama kalinya. Sepanjang perjalanan, kami mengamati beragam aktivitas pagi di sini. Mulai dari makcik yang tengah bekerja merawat kebun sampai pakcik yang mengendarai person (tractor) atau lori (truck).

Setibanya di sekolah, kami disambut cikgu Udin, Kepala Sekolah yang juga merangkap sebagai juru kuncinya. Mas Udin Madong, begitulah nama yang tertera di akun facebook beliau. Selain mengajar, cikgu Udin juga bertugas sebagai pengusir nyamuk di Telabit. Dua kali dalam seminggu ia keliling kompleks, membasmi nyamuk (fogging) di rumah-rumah warga. Fakta menarik: usia beliau sudah mencapai kepala empat, namun masih jomblo jua. Mau?

Sekolah non-formal CLC An-Nur Hijrah Telabit yang sederhana, namun penuh cerita. Di gubug kayu inilah sekitar 32 pelajar menimba ilmu. Mulai tingkat Tadika (TK), SD hingga SMP, bermain dan belajar bersama. Berbaur satu atap tanpa sekat. Fasilitas yang minim ditambah kualitas pendidik yang seadanya membuatku semakin prihatin sekaligus ragu akan mutu pendidikan di sini. Namun selama mengajar di sini, keraguanku sedikit demi sedikit tumbuh menjadi keyakinan. Bahwa mereka pun dapat bersaing dengan pelajar di Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Salah satunya karena kehadiran sosok Evan.

Ya, Evan. Evan adalah satu-satunya murid SMP di Telabit yang sangat bersemangat melanjutkan sekolah, demi mengejar cita-citanya menjadi seorang dokter. Tahun lalu, ia menjadi lulusan SD Paket A terbaik se-Sarawak, Malaysia. Sungguh prestasi yang sangat membanggakan warga Telabit. Harus diakui, kecerdasan dan kedisiplinannya dalam belajar memang di atas rata-rata murid lainnya. Evan-lah yang menjadi ketua kelas. Evan-lah yang menjadi contoh dan panutan siswa lainnya di sekolah. Evan pula-lah yang kerap kali mendapat tugas penting dari cikgu, entah mengantar pulang siswa Tadika, atau sekadar memanggil murid-murid untuk berkumpul. Walaupun begitu, Evan juga tak jarang menjadi biang kerok kegaduhan kelas. Maklum, anak-anak.

Semoga masih ada Evan-Evan lainnya di Telabit. Yang giat belajar demi menggapai asa setinggi langit. Bukan lagi hanya bermimpi ingin meneruskan orang tua menjadi buruh tombak, mandor atau sekadar driver. Make your dream comes true Evan, for your better future.

Mail Dua Seringgit

Selain Evan, masih banyak murid Telabit lainnya yang tak kalah unik. Ada trio kelas 6 SD yang cerdas-cerdas: Suleha, Nana dan Uni. Johari kelas 5 SD yang slengekan tak karuan tapi dapat diandalkan, walaupun hanya kadang-kadang. Akmal (4 SD) si mungil genius yang hafal teks Pembukaan UUD 1945. Ada pula Milda (4 SD) yang selalu penuh canda. Dan masih banyak yang lainnya. Salah satu murid yang membuatku sesekali cekikikan adalah Mail Ismail. Kami memanggilnya Mail Dua Seringgit.

Pernah melihat kartun Malaysia, Upin dan Ipin? Tahu salah satu tokoh yang gemar membantu ibunya berjualan dengan tagline, “Dua seringgit, dua seringgit”? Yes, Mail Ismail is his name. Namanya sama, perawakan Mail di Telabit pun sangat kembar identik dengan Mail dalam Upin dan Ipin. Tak salah dong, jika kami memanggilnya Mail Dua Seringgit.

Mail termasuk bocah yang cerdas, peduli dan berani. Satu hal yang paling kocak dari Mail, ekspresinya yang tiba-tiba berubah drastis saat terkejut atau tertawa. Mail jua-lah yang pertama kali berinisiatif menulis surat perpisahan untukku. Dengan tulisan cakar ayamnya, Mail berpesan: “CEgU LiNtANg jAgAN pULANg yA. Nati KitA mAiL Adi AjAK pEgi KA BiNtULU. mAiL.” (“Cikgu Lintang jangan pulang, ya. Nanti kita, Mail dan Adi ajak pergi ke Bintulu. Mail.”)

Terima kasih banyak, Mail. Kapan-kapan kita ke Bintulu, OK? :’)

Reyhan Nakal Bingit?

Suatu siang selepas mengajar, kunikmati angin sepoi-sepoi di beranda rumah cikgu Selfie. Tak lama berselang, Jihan menyusul sembari membawa satu paket cerita bergambar, bantuan dari KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), seraya duduk di depan pintu dan membaca salah satu ceritanya dengan lantang. Entah Jihan membacakan cerita untuk siapa. Untukkukah? Hey Jihan, do you think I can’t read it by myself?

Beberapa menit kemudian, sayup-sayup dari bawah rumah panggung terdengar suara anak kecil berseliweran di sekitar rumah. Kupanggil ia naik ke rumah panggung. “Sini, nak,” ujarku. Beberapa kali kupanggil hingga berbusa, tak sekalipun ia menjawab. Menjawab pun dengan bahasa batin, diam tanpa kata, diam seribu bahasa. Kubiarkan ia duduk-duduk di tangga rumah panggung. Jihan pun merayunya dengan menyodorkan buku cerita bergambar. Walhasil, alon-alon waton kelakon, ia pun naik selangkah demi selangkah ke atas rumah panggung.

Sosoknya tak kami jumpai di sekolah, karena memang ia putus sekolah. Kondisi ekonomi memaksanya membantu orang tua di usia yang sangat belia. Menurut cikgu Selfie dan Ustadz Faizal, anak ini very very naughty boy. Ciyus? Namun nyatanya, menurut kami anak ini anak yang pemberani, penurut dan mudah diatur. Walau memang sedikit liar.

Mungkin bukan nakal, lebih tepatnya cari perhatian. Namanya Reyhan. Saat kuajak ke surau, Reyhan menurut. Padahal selama ini ia jarang sembahyang di surau, bahkan tak pernah. Kala kuajak mengaji bersama ba’da maghrib, Reyhan pun ikut. Walaupun sejauh ini ia jarang mengaji dan baru faham sampai huruf “jim”. Reyhan menjadi cermin bagaimana kondisi miris anak-anak TKI di sini. Mereka terhimpit hiruk-pikuk kondisi industri. Mereka tercekik dengan doktrin: uang yang paling penting. Mereka minim fasilitas belajar. Mereka minim fasilitas bermain. Satu hal yang pasti, mereka butuh perhatian. Reyhan hanyalah satu dari ribuan anak bangsa yang butuh uluran tangan kita. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

.: VTIC Foundation :.

(to be continued, click here to continue)


= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

"Stand by Me, Telabit"
(subtitle: enabled)


"Di Telabit, Cintaku Terbit"


Lentera Indonesia NET TV 21 September 2014
"Anak Indonesia di Negara Tetangga"






Di Telabit, Cintaku Terbit (Episode 3)


: : : : : : : :


Semangat Bangkit

Sabtu, 16 Agustus 2014. Inilah pertama kalinya aku merasakan semarak kemerdekaan di tanah orang. Inilah pertama kalinya aku mengikuti upacara bendera di negeri jiran. Hari ini, kami melangsungkan gladi resik upacara 17 Agustus bersama siswa-siswi Telabit. Cikgu Rina yang dengan tegas dan lugas mengatur pasukan pengibar bendera: Suleha, Nana dan Uni. Cikgu Jihan yang mendampingi sang dirigen, Aisah, putri Bang Risal. Sementara aku menemani Adi, petugas pembaca teks Pembukaan UUD 1945. Gladi resik yang sederhana, dan seadanya.

Ahad, 17 Agustus 2014. Upacara dilangsungkan. Johari selaku pemimpin pasukan telah menyiapkan barisannya. Sang pemimpin upacara, Evan, pun telah melaporkan kesiapan pasukan pada pembina upacara, Cikgu Udin. Suleha, Nana dan Uni dengan sigap memasuki lapangan upacara, membentangkan Sang Merah Putih. Ya, cukup dibentang dan tanpa tiang. Karena tak boleh ada bendera berkibar selain bendera Malaysia di sini. Agak sedih rasanya tak dapat melihat keperkasaan Sang Saka. Namun apa dikata, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.

Luka ini terobati manakala lagu kebangsaan, Indonesia Raya, digaungkan dari mulut mungil siswa-siswi Telabit. Haru-biru bercampur semangat ’45 kembali membangkitkan rasa persaudaraan, sejenak melupakan perbedaan dan menyelami makna Indonesia. Seperti yang diungkapkan project officer VTIC 3, Ahmad Adib, “Indonesia bukan sebatas lokasi, tapi Indonesia ada di hati”. Merdeka!

Usai upacara nan sederhana dan seadanya itu, tiba-tiba air mata cikgu Selfie tumpah-ruah tak terbendung. Entah beliau menangis karena sedih melihat penampilan upacara anak didiknya, atau menangis karena haru, rindu tanah kelahiran yang sudah delapan tahun ditinggalkannya.

Keliling Kebun Kelapa Sawit

Sabtu, 23 Agustus 2014, menjadi hari terakhir kami mengajar di Telabit. Sudah dua hari ini kami mengajar tanpa kehadiran cikgu Selfie dan cikgu Rina. Sejak Kamis (21/8) lalu, mereka mengantarkan trio siswi kelas 6: Suleha, Nana dan Uni mengikuti Ujian Paket A di Lavang Estate. Sejak Kamis pula, kami kedatangan rekan kami yang siap membantu, cikgu Gianti dari Universitas Islam Bandung. Sejak Kamis jua, kegiatan kami diliput oleh Net TV. Alhamdulillaah.

Sabtu ini, kami tak ada niatan mengajar pelajaran apapun. Kami ingin berbagi setitik keceriaan, mungkin untuk yang terakhir kalinya. Kami ingin berbagi secercah kebahagiaan, di detik-detik terakhir kebersamaan kami. Bersama seluruh siswa, kami menyusuri bukit dan kebun kelapa sawit. Melihat-lihat pemandangan nan elok, mensyukuri karunia Allah Yang Maha Agung. Usai jalan-jalan, kami membagikan buah tangan sederhana sebagai kenang-kenangan dari Indonesia. Walaupun beberapa hadiah kami beli di Batu Niah dan Bintulu, anggaplah itu dari Indonesia ya nak.

Hari ini anak-anak kami pulangkan lebih awal. Beberapa siswa telah disiapkan untuk mengikuti ajang Persami (Perkemahan Sabtu-Minggu) di Saremas, yang sekaligus menjadi event penutup VTIC 3. Keberangkatan kami dari Telabit menuju Saremas, menanti datangnya rombongan cikgu Selfie dari Lavang.

Menjelang sore, rombongan cikgu Selfie yang baru saja menyelesaikan ujian Paket A pun tiba dengan menumpang beng-beng (semacam travel mini van). Artinya, inilah detik-detik perpisahan kami dengan warga Telabit. Rintik hujan menemani kepergian tim Persami Telabit. Selamat tinggal Telabit, sampai jumpa di lain hari.



Perpisahan Pahit

Sepanjang perjalanan dari Telabit ke Saremas, kami habiskan dengan penuh suka-cita dan canda-tawa. Kami nyanyikan yel-yel penyemangat tim Telabit, dengan harapan mereka dapat mengikuti Persami dengan optimal dan meraih banyak prestasi di kompetisi yang diselenggarakan.

Sabtu malam (23/8), kami mengikuti upacara dan pesta api unggun ala Pramuka di Saremas. Setelah sebelumnya para peserta dari berbagai sekolah non-formal menampilkan aksinya dalam lomba pentas seni. Kami dari Telabit menampilkan seni tari khas Sulawesi, tari Baju Bodo dan tari Habibi. Sebuah kehormatan bagi kami, karena malam ini pihak KBRI Kuala Lumpur dan KJRI Kuching turut serta mengikuti seluruh rangkaian Persami.

Keesokan harinya, Ahad (24/8), berlangsung beraneka ragam perlombaan. Mulai dari cerdas-tepat, ala ranking 1, lomba baca puisi, lomba mewarnai, hingga ajang olahraga ala 17-an: estafet air, balap sarung, giring kelereng, dan joget balon. Menjelang sore, tiba saatnya pengumuman. Alhamdulillaah, santri kami dari Telabit mendapatkan beberapa titel juara, walaupun belum menjadi juara umum. Dan yang paling mengesankan adalah penampilan Suleha yang menyabet Juara 1 lomba baca puisi. So touching, congratulation Suleha :’)

: : : : : : : :

Dari mana datangnya lintah? Dari sawah turun ke kali.
Dari mana datangnya cinta? Dari mata turun ke hati.

Dua pekan lamanya kami berjumpa. Ada pertemuan, tentu ada perpisahan. Tiba masanya kami berpisah. Perpisahan memang pahit. Namun pahit bukan berarti tak baik bagi kita. Terkadang, obat dan jamu nan pahit justru menjadi jalan kita kembali menikmati manis dan nikmatnya kesehatan. Terkadang, gula yang manis justru membuat hidup kita pahit dengan berbagai macam penyakit. Sesuatu yang menurut kita buruk, sejatinya belum tentu benar-benar buruk bagi kita. Begitu pula sebaliknya. Sesuatu yang menurut kita baik, sejatinya belum tentu benar-benar baik bagi kita

Dua pekan lamanya kami bersama. Kiranya banyak kisah yang tak semuanya dapat dituliskan. Banyak cerita yang tak dapat dilupakan. Banyak kata yang tak mampu diungkapkan. Di Telabit, cintaku terbit.


.: E N D :.


= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =


"Stand by Me, Telabit"
(subtitle: enabled)


"Di Telabit, Cintaku Terbit"


Lentera Indonesia NET TV 21 September 2014
"Anak Indonesia di Negara Tetangga"






Friday, May 9, 2014

Malam Anugerah Donor Darah PMI Jogja

Kamis, 8 Mei 2014
Balaikota Yogyakarta
Malam Anugerah Donor Darah PMI Kota Yogyakarta


Alhamdulillaah sudah 25 kali raga ini aktif berdonor darah di PMI. Sejak zaman SMA di tahun 2008, diri ini membulatkan tekad untuk turut berjuang sebagai relawan donor darah sukarela. Dan alhamdulillah pula, PMI secara nasional mengapresiasi seluruh relawan donor darahnya dengan memberikan penghargaan bagi pendonor yang telah mendonasikan darahnya sebanyak 25 kali, 50 kali, 75 kali dan 100 kali ^_^

Momentum pemberian penghargaan bagi "pahlawan kemanusiaan" dilaksanakan secara nasional. Khusus untuk Kota Yogyakarta, agenda Malam Anugerah Donor Darah PMI Kota Yogyakarta dihelat pada 8 Mei 2014, yang sekaligus sebagai momen hari jadi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional yang ke 151 (1863-2014).


Alhamdulillah, sudah 25 kali. Lanjutkan!


Berkumpul bersama para relawan donor darah begitu terasa menyenangkan. Banyak Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang usianya tak lagi muda, namun kesehatannya terjaga dengan berdonor. Buktinya, mereka telah rela 100 kali berdonor di PMI dan tampil awet muda. Hal ini semakin memicu semangat untuk terus berderma melalui PMI. Alhamdulillah diri ini meraih penghargaan donor darah 25 kali di usia yang terbilang cukup muda, 22 tahun ^_^ *cieee*

Semoga, jika Allah mengizinkan, raga ini masih mampu untuk meneladani para senior yang disiplin dan rutin dalam berdonor darah hingga puluhan bahkan ratusan kali. Bukan demi mengejar penghargaan, namun sebagai bukti kepedulian kita pada sesama. Yuk donor darah 75 hari sekali. Badan sehat, tubuh kuat, berbagi manfaat untuk ummat dan insya Allah bahagia dunia akhirat. Karena pada hakikatnya, bahagia itu bukan seberapa banyak yang kita dapat, tapi seberapa ikhlas kita memberi ^_^ Siamo Tutti Fratelli.



Wednesday, October 16, 2013

Tak Terasa Sudah 1, 2, 3 Tahun

"Alhamdulillaah yaa Allah, yaa Khooliq, yaa Rohmaan, yaa Rohiim, yaa Muqollibal quluub. Engkau telah beri berjuta-juta nikmat dan kesempatan pada hamba-Mu yang banyak berbuat dosa ini."


.: WARNING! Tulisan ini adalah curhat dosis tinggi menjelang skripsi! :.

Tak terasa sudah 3 tahun lebih diri ini mengembara dan menimba ilmu di Kampus Biru *padahal gedungnya ga ada yg warnanya biru* yang katanya Kampus Kerakyatan *semoga aja benar2 bisa merakyat*. Suka-duka dilewati, susah-senang dinikmati. Harga BBM dan biaya makan yang naik-turun, IP yang labil turun-naik, bahkan pernah sesekali berat badan ini turun, namun lebih sering naiknya (*__* )"

Lika-liku kehidupan mahasiswa memang benar-benar berkesan. Mulai dari kegiatan perkuliahan *yang sering mbolos dan titip absen*, rutinitas sebagai aktivis organisasi di sana-sini, ikut kompetisi kemahasiswaan tingkat regional hingga internasional, sampai iseng-iseng nyambi kerja buat nambah uang tabungan. Karena saya sudah jadi Maba *mahasiswa hampir basi*, saya tidak akan membahas aktivitas sebagai mahasiswa aktivis atau yg gencar ikut kompetisi sana-sini. Dalam postingan kali ini sengaja saya ingin mengungkap tabir kehidupan saya sebagai mahasiswa sederhana yang iseng2 nyambi kerja kecil2an, yang alhamdulillah kebetulan sangat menyenangkan \(^o^ )/

Kerjaan sambilan pertama, saya lakoni mulai 19 November 2011 hingga saat ini. Tepat seminggu sebelum hari milad saya yang ke-XX *kasi tau gak eaaa?*. Ya, saya mulai menjadi trainer PMR (Palang Merah Remaja) di SMK N 1 Depok, Sleman. Impian saya semasa SMA, menjadi trainer PMR pun terwujud sudah.

Sejarahnya begini: Saat itu, ada seorang anak PMR SMK N 2 Depok yang SMS saya, ngajak ketemuan di suatu kompetisi PMR yang diadakan KSR (Korps Suka Rela) Universitas Negeri Yogyakarta. Singkat cerita, si anak PMR SMK N 2 Depok itu malah mempertemukan saya dengan tetangganya, anak PMR SMK N 1 Depok yg lagi butuh trainer PMR. Dan voillaaaaa~ jadilah saya seorang trainer PMR (^_^ ) Alhamdulillah bersama PMR SMK N 1 Depok sudah beberapa prestasi kami ukir loh, di antaranya:
Juara 2 Mading se-DIY, ANAVA Himasta Universitas Gadjah Mada (2012)
Juara 3 Mading se-DIY, ANAVA Himasta Universitas Gadjah Mada (2012)
Juara Umum 3 Henry Dunant Competition, KSR Politeknik Negeri Semarang (2012)
Juara 2 Perawatan Keluarga Lomba Kesehatan Nasional STIKES Aisyiyah (2013)
Juara Favorit Mading Kesehatan Lomba Kesehatan Nasional STIKES Aisyiyah (2013)
* Juara 1 Pertolongan Pertama Invitasi VI KSR Univ Ahmad Dahlan (2014)
* Juara 2 Pertolongan Pertama Invitasi VI KSR Univ Ahmad Dahlan (2014)
* Juara 3 Kesiapsiagaan Bencana Invitasi VI KSR Univ Ahmad Dahlan (2014) 

Alhamdulillah pula, prestasi ini membuat saya pernah diundang beberapa kali untuk sekadar berbagi cerita dalam talkshow maupun pelatihan singkat di: 
1. Hiperkes FK UNS (Solo),
2. KSR PMI Unit UNY (Yogyakarta),
3. PMR SMP N 4 Wonosari (Gunung Kidul), 
4. PMR MAN 1 Wates (Kulon Progo), 
5. PMR Madya SMP Muhammadiyah 1 Depok, 
6. PMR Madya - Wira Insan Cendekia Al-Mujtaba (Solo) :)


Kerjaan sambilan kedua, menjadi pembimbing KIR (Karya Ilmiah Remaja) di sekolah yang sama, SMK N 1 Depok, mulai pertengahan 2012 hingga kini. Awalnya saya iseng merekrut 2 anak anggota PMR SMK N 1 Depok untuk ngerjain bareng proyek sains. Proposal penelitiannya sengaja saya ikutin kompetisi bertajuk “Kreativitas Siswa SMK” yang dihelat Dinas Pendidikan DIY. Alhamdulillah proposalnya didanai 3 juta dan diberi kesempatan pameran di Taman Pintar Yogyakarta. Mulai dari sinilah Pak Kepala Sekolah mengangkat saya selain sebagai trainer PMR, juga sebagai pembimbing KIR *alhamdulillah, kalo uda rejeki, gak bakal ke mana*. Sampai saat ini bersama KIR SMK N 1 Depok, sudah beberapa prestasi dihasilkan, di antaranya:
* Hibah Program Klinik Sains SMK, Dinas Pendidikan DIY (2012)
* Juara 1 Olimpiade Karya Ilmiah Siswa, Dinas Pendidikan Sleman (2012)
* Juara 3 Olimpiade Karya Tulis Ilmiah Universitas Negeri Semarang (2013)
* Juara Harapan 1 Anugerah Iptek DIY, Bappeda DIY (2013)
* Peringkat 4 Olimpiade Penelitian Universitas Negeri Yogyakarta (2013)
* Juara 1 Lomba Karya Ilmiah Remaja IST AKPRIND Yogyakarta (2013)
* Juara 2 Youth Creative Olympiad UKMP Univ. Negeri Semarang (2013)
* Juara 3 Youth Creative Olympiad UKMP Univ. Negeri Semarang (2013)
* Finalis LKIR Nasional FKIP Univ. Muhammadiyah Malang (2014)
* Juara 2 Creanovation Awards Universitas Dian Nuswantoro (2014)
* Most Inspiring Kategori Perkakas Creanovation Awards Univ. Dian Nuswantoro (2014)
Hibah Program Klinik Sains SMK, Dinas Pendidikan DIY (2014)


Kerjaan sampingan ketiga, jadi penyiar radio MQ FM Jogja *ini juga cita2 saya semasa SMA*. Waktu SMA, saya sering banget ndengerin radio MQ FM Solo *sekarang MH FM Solo*, terutama kajian Aa Gym dan acara nasyidnya. Begitu merantau di Jogja, eh ternyata ada MQ FM Jogja, alhamdulillah jadi bisa nglanjutin hobi nyimak nasyid. Awalnya saya iseng2 ikut audisi penyiar MQ Jogja tahun 2012. Pas audisi sebenarnya saya sedang ada amanah nemenin anak2 PMR yang lagi lomba di Universitas Ahmad Dahlan, tapi gak papa saya tinggal mereka sebentar. Kan uda pada gedhe, masa masi ditemenin? hehe :) Singkat cerita, per Agustus 2012 saya dikontrak di MQ FM Jogja deh. Nyari tambahan uang jajan sembari memperdalam ilmu agama, insya Allah *tidak menutup kemungkinan juga nyari jodoh yg sholihah, hehe*. Dan alhamdulillah bersama tim Kamar Berita MQ FM, kami berhasil menyabet Juara 2 Lomba Karya Tulis Kepenyiaran PTPN X 2013. Momen yang paling saya suka: bisa ketemu tim nasyid EdCoustic, yee yee lala lala~


Ketiga kerjaan (baca: amanah dari Allah S.W.T) tersebut hingga kini insya Allah kulaksanakan sebaik mungkin. Ya ngajar PMR, ya membimbing KIR, ya siaran, ya kuliah, ya bikin proyek, semuanya insya Allah kulakoni dengan optimal dan penuh keikhlasan. Semoga bernilai ibadah *Aamiin*. Tak terasa sudah 3 tahun jadi mahasiswa, tak terasa sudah 2 tahun ngajar PMR dan KIR, tak terasa sudah 1 tahun mengudara di MQ FM Jogja. Kini saatnya untuk memulai merasakan skripsi dan memulai pencarian pasangan hidup (^o^ )

“People don’t care how much you know,
till they know how much you care”

Wednesday, June 5, 2013

Final LKTI-M se-Jawa & Bali 2013

Senin, 3 Juni 2013
Kompleks Kampus IKIP PGRI Madiun
Final LKTI Mahasiswa se-Jawa dan Bali 2013


10 Finalis LKTI-M
.: UNY, Unnes, UGM, IPB, UNS, Unair, Unibraw, UPJS :.

Alhamdulillah, these are the champions for this year :)
1st UNY, 2nd Unnes, 3rd UGM

Daftar Finalis

Nama
Judul
Asal Perguruan TInggi
Nurhidayah
Smart Character: Multimedia Pembelajaran Keterampilan Bina Diri Pada Anak Tunagrahita Guna Membentuk Karakter Mandiri
Universitas Negeri Yogyakarta
M Wahyudi
Quantum Teaching In Action Dengan Berbantuan Sistem Automatically Test And Evaluatingion Of Learning (Sio-Tel) Upaya Meningkatkan Kejujuran Dalam Akademik Siswa
Universitas Negeri Semarang
Linda Erlina
Penggunaaan Aplikasi Kimia untuk Siswa SMA Menuju Green Chemistry
Universitas Pancasila Jakarta Selatan
Lintang Wisesa Atissalam
Aplikasi Pembelajaran Transliterasi Aksara Jawa Interaktif Berbasis Visual Basic Application Pada Microsoft Powerpoint
Universitas Gajah Mada
Eka Legya Frannita
IMPLEMENTASI TEKNOLOGI INFORMASI DALAM MEDIA PEMBELAJARAN KAMUS FISIKA PORTABLE BERBASIS MOBILE APPLICATION
Universitas Negeri Yogyakarta
Septian Yuwandis Amir
Aplikasi DOKURA (Doalanan Kuliner Nusantara) Sebagai media Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di kalangan Anak Usia Sekolah Dasar Guna melestarikan Makanan tradisional
Universitas Airlangga
Azhar Nasih Ulwan
Physics v.1.0 : Aplikasi Media Pembelajaran Fisika SMA Materi Gerak Lurus Berbasis Platform Android dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Melalui Pengembangan Teknologi.
Universitas Negeri Yogyakarta
Dita Serdani
P-EHeS (Pupet Edu-Heritage House): Upaya Pengembangan Moral Behaviour Dan Karakter Siswa TK Melalui Media Pupet Games Bharatayuda
Universitas Brawijaya
Fariza Yulia Kartika Sari
SEDAP Inovasi Metode Pembelajaran Contextual Learning Berbasis DAP (Developmentally Appropriate Practices)
Institut Pertanian Bogor
Heri Setyoko
GABUWIT "GARDU BUDAYA WAYANG KULIT": APIK BELAJAR DAN BERMAIN WAYANG KULIT SEBAGAI UPAYA MENANAMKAN NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL PADA ANAK-ANAK
Universitas Sebelas Maret

I like Tsubasa, watch this!

Compilation shots from Captain Tsubasa "Aratanaru Densetsu Joshou" ("New Legend Beginning") Play Station X Game, adaptasi dari komik Captain Tsubasa World Youth (1994), awesome!